Proses Berfikir Kreatif

Proses berfikir kreatif bisa dikatakan proses berfikir inovatif dan penuh ide-ide serta gagasan-gagasan cemerlang yang bisa membawa Anda meraih berbagai kebahagiaan dalam hidup. Proses berfikir kreatif adalah hal yang gampang-gampang susah.




Kalau dibandingkan dengan orang Jepang atau Cina, proses berfikir kreatif mereka jauh lebih tinggi karena urusan perut sudah dijamin oleh pemerintah setempat. Kalau di Indonesia, mungkin sedikit sekali orang yang bisa melakukan proses berfikir kreatif, jangankan memikirkan urusan negara, urusan perut cucu, anak, dan istri pun sudah bikin sakit kepala. Begitulah pada umumnya proses berfikir masyarakat Indonesia yang konon katanya negeri makmur dan kaya sumber daya alam.

Bagaimana menurut Anda? Menurut salah satu teman saya Joe The Mighty and The Big Fat Furious Alfaraby, penerawangannya terhadap proses berfikir kreatif dia tuangkan ke dalam sebuah tulisan dibawah ini sambil meminum secangkir kopi good day dan sebatang rok*k filter, berikut penuturan the Bing Bang Marvelous Theory of de day.

Setiap mendengar kata kreatif, pikiran saya selalu terasosiasi dengan istilah rekreatif. Dari segi etimologis, keduanya memang masih bersaudara. Tapi dalam bahasa Indonesia, istilah kreatif secara sederhana diartikan sebagai daya mencipta. Adapun rekreatif erat kaitannya dengan hiburan atau tamasya. Sekilas keduanya tidak berhubungan. Tapi jika kita perhatikan lebih jauh, ada jalinan erat antara menjadi kreatif dan menghibur diri dengan berekreasi.

Ketika Anda pergi ke tempat-tempat rekreasi, maka dipastikan Anda sedang mencari hiburan. Kecuali tentu saja kalau Anda seorang polisi yang sedang mengejar teroris (lol). Mencari hiburan berarti melepas kepenatan atau kesedihan, karena hidup terlalu singkat untuk dibuat stressfull.

Melakukan rutintas bisa membuat Anda stres. Jika dilakukan terus-menerus tanpa rehat, hasilnya bisa jauh dari efektif dan efisien kata Stephen Covey dalam 7 Habits-nya. Dengan hiburan, biasanya otak akan kembali fresh dan siap melakukan tantangan. Dengan hiburan pula ide-ide kreatif kerap muncul dengan spontan.

Bobbi De Porter dalam bukunya, Quantum Learning, bahkan menganjurkan agar senantiasa menyelenggarakan "pesta" setiap kali sebuah keberhasilan (sekecil apapun) kita raih. Dengan "berpesta" kita bukan hanya menghargai usaha yang telah kita lakukan, namun juga untuk memastikan bahwa energi dan otak kita tidak diforsir habis-habisan; kencang di awal, loyo belakangan, dan akhirnya berhenti total di tengah jalan.

Setiap jeda adalah penopang yang akan membuat tangga menuju keberhasilan lebih kokoh untuk dititi. Karena saya tidak punya cukup uang, daripada menyelenggarakan pesta saya biasa bersepeda mengitari kota suka-suka (kalau kata The Changcuters mah) setiap kali stress melanda.

Betapapun kreatifnya seseorang, pasti ada saatnya dia mengalami hambatan kreatifitas. Di sinilah pentingnya rekreasi. Rekreasi tidak harus melulu pergi ke tempat hiburan, seperti halnya merasa terhibur tidak harus melulu menyaksikan lawakan Tukul Arwana. Bukankah kehadiran sang kekasih bisa memberikan hiburan tersendiri?

Berekreasi sekaligus menjadi kreatif dengan menulis

Bagi sementara kalangan, menulis bisa jadi hiburan. Konon bahkan menulis memiliki efek terapetis. Memang, dengan menulis kita bisa bebas melakukan apapun yang kita inginkan. Kita bisa telanjang, kita bisa jadi Spiderman, atau sekalian jalan-jalan ke akhirat.

Berbahagialah jika Anda menemukan hiburan dalam menulis. Selain tanpa biaya, rekreasi dengan menulis bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu jam buka seperti di tempat-tempat hiburan pada umumnya.

Kreatifitas adalah bagian dari diri kita

Setiap kita pasti memiliki sisi kreatifitas masing-masing, meskipun terkadang tidak kita sadari. Seperti halnya bernafas, kreatifitas adalah bagian dari diri kita sendiri. Apabila Anda merasa tidak kreatif, maka yakinlah bahwa sebenarnya Anda kreatif. Jika Anda bersikeras merasa tidak kreatif, maka carilah hiburan!

Salam Rumah Cerdas.

No comments:

Post a Comment