Hidup Terpaksa Miskin

Hidup terpaksa miskin memang bagai sayur tanpa garam, selalu hambar, penuh gubuk derita, dan penuh keputusasaan. Siapa yang enggak mau hidup bahagia enggak terpaksa miskin, pasti semua orang ingin sejahtera di dunia maupun di akhirat. Terpaksa miskin memang adalah sebuah keterpaksaan yang selalu dipaksakan tanpa diperdulikan oleh mereka. Bagaimana lanjutan terpaksa miskin, tulisan berikutnya datang dari Joe Almighty The Big Fat Furious Alfaraby, Check This Out.




Dalam ilmu-ilmu sosial, kemiskinan dipandang sebagai masalah sosial. Dalam usaha memahami masalah sosial ini, para ilmuwan sosial mengembangkan sejumlah teori.

Secara umum dan, tentu saja berdasarkan pada apa yang saya ketahui, teori-teori tersebut bisa kita bagi ke dalam dua bagian. Pertama, teori yang menempatkan orang-orang miskin sebagai subjek yang harus dipersalahkan, dan kedua, teori yang memandang kemiskinan sebagai sesuatu yang sengaja dilestarikan, terutama oleh kelompok-kelompok penguasa, untuk melanggengkan kekuasaan mereka.

Teori bukanlah hukum apalagi sunnatullah yang absen dari kekeliruan. Teori lebih merupakan generalisasi yang dibuat, khususnya oleh ilmuwan, berdasarkan fakta-fakta ilmiah yang disusun secara sistematis dan logis, untuk memahami berbagai gejala alam maupun sosial. Pada gilirannya teori-teori tersebut digunakan pula untuk memrediksi serta mengontrol hal-hal yang mungkin terjadi terkait dengan gejala-gejala tersebut.

Dilihat dari konteksnya, kedua teori tersebut sama-sama bisa diterapkan. Apabila jumlah orang miskin di suatu tempat bisa dihitung dengan jari, teori yang pertama mungkin ada benarnya. Namun, jika jumlah orang yang miskin jauh lebih banyak dari orang kaya, teori kedualah yang lebih unggul.

Secara pribadi, saya lebih nyaman dengan teori yang disebut terakhir. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa di mana-mana, orang miskin merupakan mayoritas.

Saya pikir, tidak ada seorang pun yang ingin miskin kecuali mungkin sementara para pengamal tasawuf yang memandang kotor dan hina kehidupan dunia ini sehingga harus dijauhi karena kemiskinan umumnya dipandang sebagai kegagalan menjalani hidup.

Apa yang kita lakukan sering dimaksudkan untuk menjauhinya, meski kerap kita harus terjerembab ke lembah kemiskinan tersebut.

Kita meyakini bahwa nasib seseorang sepenuhnya ada di tangan Sang Maha Pencipta. Namun, Dia pun menganugerahi kita kebebasan, dalam batas-batas kemakhlukan kita, untuk menentukan jalan hidup yang akan kita tempuh. Tuhan pun membuat pedoman-pedoman (sunnatullah) untuk menyertai kebebasan yang dianugerahkan-Nya.

Belajar dengan penuh kedisiplinan adalah salah satu pedoman Tuhan bagi siapa saja yang ingin meraih kecerdasan serta kebijaksanan. Tanpa belajar, mustahil kita menggapai keduanya, karena kita tidak melakukannya sesuai dengan pedoman Tuhan tersebut.

Demikian halnya dengan kekayaan. Tidak mungkin kita meraihnya jika hanya dilakukan dengan berangan-angan, berpangku tangan, dan minus usaha.

Namun, dalam praktiknya, tidak jarang kita menyaksikan orang-orang pekerja keras yang terus-menerus berkubang dalam kemelaratan. Mereka bukan pelamun. Pun mereka bukan kelompok orang-orang yang mengaharapkan uang jatuh dari langit begitu saja.

Saya tidak mau gegabah mengatakan bahwa usaha yang mereka lakukan belum maksimal atau tidak membarenginya dengan doa sehingga saya hanya bisa menawari mereka obat ajaib bernama "tawakal". Secara pribadi saya lebih suka menyebut mereka sebagai orang-orang yang dimiskinkan, dilemahkan potensi-potensinya, dan dibatasi kesempatan-kesempatannya.

Kemiskinan-kemiskinan ini, langsung maupun tidak, sadar maupun tidak, "dipaksakan" baik oleh orang-orang kaya yang tidak hirau terhadap orang-orang miskin ataupun pemerintah yang lebih senang membuat kebijakan untuk melestarikan keadaan yang dialami kaum papa tersebut.

Kemiskinan-kemiskinan yang dipaksakan ini secara apik digambarkan, misalnya, dalam film bertema kritik sosial, Tanah Surga...Katanya, karya sutradara Herwin Novianto.

Hidup terpaksa miskin bukan pilihan. Tapi sayangnya, kita lebih mudah meraihnya, meski terpaksa.

Salam Rumah Cerdas.

No comments:

Post a Comment