Mudahkah Menjadi Penulis?

Mudahkah menjadi penulis? Menjadi seorang penulis hebat seperti J.K Rowling yang sangat tenar dengan novel Harry Potter memang tidak mudah. J.K Rowling yang dulunya mengecap kemiskinan selama puluhan tahun kini berubah menjadi miliuner berkat tulisan novelnya yang sangat melegenda dan bahkan sampai sekarang masih diputar di layar lebar.




Penulis hebat berikutnya yang tak kalah hebat adalah Masashi Kishimoto, penulis komik Naruto yang sekarang setiap episode-nya ditunggu oleh jutaan penggemarnya. Menjadi penulis handal dan hebat butuh kerja keras dan pengorbanan waktu, materi yang tidak sedikit, kecuali jika sang komikus dihargai oleh pemerintah dan dijamin segala kebutuhannya. Seperti tulisan berikut ini dari The King Joe Almighty Alfaraby tentang mudahkah menjadi penulis? Atau bagaimana sih sebetulnya menulis itu. Simak aja deh.

Ambillah secarik kertas dan sebuah bolpoin, kemudian tuliskan apa yang sedang terlintas di benak Anda saat ini!

Apa yang Anda lihat? Sebuah tulisan, bukan?

Bagi saya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi penulis. Tentunya dengan syarat mampu membuat tulisan, yang secara harfiah mampu merangkai huruf menjadi kata, serta sedikit banyak mengetahui bagaimana menyusun kata-kata tersebut menjadi kalimat untuk kemudian menjadi sebuah paragraf.

Jika menulis saja tidak bisa, mana mungkin kita jadi penulis? Iya, kan?

Selain keterampilan membuat tulisan secara harfiah di atas, kita mempunyai modal lain untuk menjadi penulis, yaitu kecenderungan kita, sebagai makluk sosial, untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Dalam berkomunikasi, kita menggunakan bahasa lisan (atau isyarat bagi yang mengalami keterbatasan) yang dapat dimengerti oleh teman bicara. Apa yang kita tuturkan menggunakan bahasa lisan pada gilirannya dapat kita tuangkan ke dalam bentuk tulisan.

Sebagai manusia, kita pun dianugerahi Tuhan kemampuan berinterkasi dengan lingkungan sekitar, diri kita pribadi, bahkan dengan Tuhan sekalipun.

Apa yang kita tulis, oleh sebab itu, akan selalu merupakan hasil dari cara kita menanggapi, mencermati, dan merasai interaksi-interksi tersebut.

Setelah menyadari akan kedua modal dasar di atas, langkah selanjutnya adalah mengolah dan mengelolanya. Besarnya modal yang dimiliki seorang calon pengusaha bukan jaminan bahwa ia akan berhasil menjadi pengusaha sukses.

Demikian halnya dengan menulis. Kedua modal utama di atas tidak akan membawa kita ke mana-mana jika tidak diolah dengan bentuk latihan terus-menerus.

Latihan menulis ini tidak harus dipahami dalam konteks kuantitas. Seorang pengendara motor dengan jam terbang tinggi bisa jadi seorang pengendara yang mahir. Namun, sangat mungkin ia hanya tahu bagaimana menunggangi si kuda besi tersebut plus cara berbelok, mengerem, dan menghidari jalan berlobang.

Ini berbeda dengan pengendara motor yang cerdas. Ia tidak hanya mahir menungganginya, tapi piawai pula mengendarai motornya ketika membawa barang atau membonceng teman, serta tahu betul apa yang mesti dilakukannya ketika sang motor mengalami kerusakan.

Menjadi penulis seperti pengendara motor kedua tidak bisa dilakukan hanya dengan menulis, menulis, dan menulis. Kita perlu pula menyisihkan waktu untuk mempelajari tatabahasa, misalnya bagaimana mengawali dan mengakhiri tulisan, membuat anak kalimat, serta mengutip sebuah pernyataan.

Di samping keterampilan tatabahasa, seorang penulis diwajibkan pula mengisi bahan bakar kreatifitasnya dengan membaca buku sebanyak dan sesering mungkin.

Bagaimana mungkin kita menjadi penulis jika kita sendiri enggan membaca karya-karya orang lain?

Menjadi penulis ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Menjadi penulis kaya-lah yang masih belum terbayang.

No comments:

Post a Comment