Menjadi Guru Humoris

Menjadi guru humoris atau menjadi seorang guru yang lucu dan bisa membuat suasana belajar yang nyaman dan mengasyikan adalah dambaan seorang guru begitu pun murid. Menjadi guru humoris haruslah memiliki daya kreatifitas yang tinggi dan mau belajar dari pengalaman. Seperti salah satu tulisan teman saya (Joe the mighty Alfaraby from Mars) yang akan menginformasikan tentang bagaimana menjadi guru humoris, apakah sulit? Kita simak saja tulisannya berikut ini.






Ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, saya paling menyukai pelajaran sejarah. Kegemaran saya akan pelajaran itu bukan karena adagium yang menyatakan bahwa "bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya", tetapi lebih karena faktor sang guru yang mengampu mata pelajaran tersebut.

Pak Wawan, demikian sang guru mata pelajaran sejarah kami saat itu dipanggil, selain piawai menceritakan sebuah episode dari peristiwa-peristiwa sejarah yang beliau sampaikan, juga dikenal sangat humoris dan ramah. Guyonan-guyonan yang beliau lontarkan di ruang kelas membuat kami merasa nyaman mengikuti setiap pelajarannya. Tidak seperti ketika mengikuti pelajaran matematika yang lebih banyak tegangnya. :)

Gaya teatrikal plus mimik muka yang ekspresif ketika beliau menceritakan sejarah, mengingatkan saya akan salah satu sosok pendongeng Indonesia, Pak Raden. Cara beliau mengajar ini benar-benar menyenangkan. Wajar apabila kemudian para siswa selalu berharap segera berjumpa dengan pekan selanjutnya, setiap kali beliau mengakhiri tugas mengajar dan mendidiknya.

Mengajar dan mendidik bukanlah pekerjaan yang selalu mudah dan mungkin tidak setiap orang dapat melakukannya. Butuh keterampilan, wawasan, serta kreatifitas untuk menjadi seorang guru par excellence; mampu mengemas pelajaran sulit menjadi mudah dicerna; mengenali kondisi-kondisi psikologis unik masing-masing peserta didiknya; berdedikasi tinggi akan profesinya sebagai pencetak generasi-generasi unggul, mandiri, patriotik, berakhlak mulia, dan kompetitif.

Efektifitas sebuah kegiatan belajar mengajar (KBM) di lembaga-lembaga pendidikan memang berhubungan erat dengan bagaimana (metode) kegiatan itu disajikan, meski secara teknis banyak faktor lain yang terlibat, seperti kelengkapan sumber belajar serta alat peraga.

Menurut saya, apa yang dilakukan Pak Wawan dengan gaya humorisnya merupakan salah contoh kreatifitas seorang guru dalam melaksanakan profesinya. Setiap guru—yang mengampu mata pelajaran apa pun—memang dituntut kreatif agar hasil belajar menjadi efektif.

Menjadi guru humoris tidak berarti seorang guru menyampaikan pelajarannya dengan main-main, sambil lalu, dan terkesan sangat tidak serius. Menjadi guru humoris adalah berusaha menghilangkan berbagai ketegangan yang kerap menghinggapi para siswa ketika mereka berinteraksi dengan mata pelajaran yang diikutinya.

Ketegangan-ketegangan inilah yang sering menjadi tembok penghalang internalisasi materi pelajaran. Alih-alih mencerna, para siswa malah terus memikirkan bagaimana menghindari "amarah" guru selama kegiatan pelajaran berlangsung. Sungguh melelahkan!

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda! Salam Rumah Cerdas.

No comments:

Post a Comment